Jumat, 28 Juni 2013

RIVIEW BUKU STUDI ISLAM KONTEMPORER


RIVIEW BUKU STUDI  ISLAM KONTEMPORER
 Penulis : M. Rikza Chamami, MSI
                                       Oleh : Sintia Ayu Rahmawati
                                                               123911101
Judul : Studi Islam Kontemporer
Penerbit : Pustaka Rizki Putra (Semarang)
Cetakan : Cetakan Pertama
Tahun Penerbit : Desember 2012
Tebal buku : 228 Halaman
BAB I : PASANG  SURUT  KEBANGKITAN  KEBUDAYAAN  DAN KEILMUAN : POTERET  DISINTEGRASI  ABBASYIAH
Sejak berdirinya dinasti Abbasyiah sampai berakhir dengan Tanda-tanda adanya disintegrasi yaitu: pertama, muculnya dinasti-dinasti kecil di barat yaitu: Dinasti Idrisi, dinasti Aghlabi, dinasti Tuluni, dinasti Ikhsyidi, dinasti Hamdani, maupun timur baghdad yaitu: Dinasti Thohiri, Dinasti Saffari, Dinasti Samani, yang berusaha melepaskan diri atau meminta otonomi. Kedua, perebutan kekuasaan oleh dinasti Buwaihi dari Persia dan Saljuk dari Turki di Baghdad, sehingga menjadikan fungsi khilafah bagaikan boneka. Ketiga, lahirnya perang salib antara pasukan Islam dengan pasukan Eropa.
Professor Nicholson telah menggambarkan permulaan mengenai kebangkitan kebudayaan pertama di zaman Abbasyiah. Kebudayaan akan berkembang dengan luas dikalangan  sesuatu umat apabila umat itu berada dalam keadaan yang tentram dan ekonomi yang stabil. Kebangkitan ilmiyah di zaman bani Abbasiyah terbagi di dalam tiga lapangan:
1.     Kegiatan  Menyusun Buku-Buku Ilmiah
Dalam menyusun buku-buku berjalan menurut tiga tingkatan. Tingkat pertama adalah tingkat yang palng mudah, ialah mencatat ide atau pecakapan. Tingkat kedua, yaitu pertegahan, merupakan bukaan ide-ide yang serupa atau hadist-hadist Rasul dalam satu buku. Dan tingkat ketiga paling tinggi ialah tingkat penyusunan yang merupakan lebih halus daripada kerja pembukuan. Tingkatan ini telah dicapai oleh kaum muslimin di zaman pemerintahaan Abbasyiah pertama pada tahun 143 H dan para ulama mulai menyusun hadist, fiqh, tafsir, buku-buku arab dan sejarah.
2.     Mengatur Ilmu-Ilmu Islam
Ilmu-ilmu Islam  ialah ilmu-ilmu yang muncul ditengah-tengah suasana hidup keislaman berkaitan dengan agama dan bahasa al-Qur’an. Berikut adalah ilmu-ilmu islam yang telah mengalami perubahan perkembangan besar di zama pemerintahan Abbasyiah: Ilmu Tafsir, Ilmu Fiqh, Ilmu Nahwu, Ilmu Sejarah, Terjemah dari bahasa Asing.
BAB II : KAJIAN KRITIS DIALEKTIKA FENOMENOLOGI DAN ISLAM
Secara etimologi fenomenologi berasal dari kata fenomen yang artinya gejala, yaitu suatu hal yang tidak nyata dan semu. Filsafat fenomenologi sebagai sumber berfikir yang kritis pemikiran yang besar pengaruhnya di Eropa dan Amerika antara tahun 1920-1945 dalam bidang ilmu pengetahuan positif bahwa obyek harus diberi kesempatan untuk berbicara yaitu, dengan cara deskriptif fenomenologis yang didukung dengan metode deduktif.
Religiusitas (keberagamaan) manusia pada umumnya bersifat universal, infinite (tidak terbatas) dan transhistoris, namun religiusitas yang mendalam-abstrak tidak dapat dipahami.
Krisis ilmu sebagai titik tolak permasalahan di Barat, hebermas tidak setuju dengan konsep teori murni Husserl karena hasil pendekatan fenomologi merupakan ontologi yang pengandaian-pengandaian fenomenologi Husserlian masih beada di dalm klaim-klaim positivime. Hussel melacak konsep teori secara genetis dalam sejarah pengetahuan barat dimana teori menduduki tempat yang paling penting untuk menafsirkan kenyataan.
Pada permulaan abad ke-20 sekelompok ilmuwan sosial tidak puas dengan cara keja kelompok positivisme menanamkan diri kelompok peneliti kualitatif yang disebut paham fenomenologi . fenomenologi mengakui empat kebenaran yaitu : kebenaran empirik sensual, kebenaran empirik logis, kebenaran empirik etik dan kebenaran empirik transcendental. Menurut Isaa J. Bouatta dalam Trends and Issues in centemporary Arabs Thought bertumpu pada tiga landasan : 1. Tradisi atau sejarah Islam; 2. Metode fenomenologi; 3. Analisis sosial Marxian.
BAB III : FILSAFAT MATERIALISME KARL MARK DAN FRIEDRICK ENGELS
Karl Heinrich Marx lahir 5 mei 1818 di Trier dari keluarga Yahudi modern, di kota perbatasan Barat jerman. Ayahnya Herschel berasal dari keturunan rabi, Marx dari kecil sudah terpusat pada sastra dan humaniora. Marx pernah masuk di Fakultas Hukum Bonn Tapi kuliyah selama setengah semesteran di lanjut kan ke Universitas Berlin fokus pada filsafat, Marx menjdi doktor pada tahun 1841. Ia meninggal di london, 14 Maret 1883 di sebuah perkuburan dan meninggl dalam keadaan kesepian, sahabat karib Karl Marx bernama Friedrick Engels lahir di Bermen jerman 1820 dan meninggal di London 1895, merek berdua sering di sebut “Bapak Pendiri Komunisme.
Materialisme dan Positivisme mamang memiliki perbedaan. Positivisme membatasi diri pada fakta-fakta, Meterialisme mengatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari materi. Pandangan tentang filsafat menuru Marx dan Engeles yaitu:
1.     Materialisme Dialektis
Marx dan Engeles menolak Materialisme abad ke-18 dan materialisme ilmiah dari abad 19 yang kedunya bersifat mekanistik. Materialisme dialektis terutama dikerjakan oleh Engeles dengan prinsip materialisme dialektis adalah perubahan dlam hal kulitas dapat mengakibatkan perubahan dalam hal kualitas.
2.     Materialisme Historis
Materialisme historis dirancang oleh Marx dengan pikiran dasar ialah bahwa arah yang ditempuh sejarah sama sekali ditentukan atau didetermiansi oleh perkembangan sarana-sarana produksi yang aterial.
Marx menyatakan bahwa di negeri jerman, kritik terhadap agama dalam garis besar sudah lengkap, dan kritik terhadap agama merupakan titik tolak untuk seluruh kritik. Landasan untuk kritik sekuler adalah : manusialah yang menciptakan agama bukan agama yang menciptakan manusia. Agama merealisasi inti manusia dengan cara fantastis karena inti manusia itu belum memiliki realitas yang nyata. Sehingga kritik terhadap surga menjelma menjadi kritik terhadap alam nyata, kritik terhadap agama menjadi kritik terhadap hukum, dan kritik teologi menjadi kritik politik.
BAB IV : SKEPTISISME OTENTITAS HADIST : KRITIK ORIENTALIS IGNAZ GOLDZIHER
Ignaz Goldziher adalah seorang orientalis yang mengeklaim ilmu-ilmu Islam yang berkaitan dengan hadis-hadis Rasulullah. Banyak para orientalis yang minat pada jurusan ini, melebihi jurusan pengkajian al-Qu’an, syari’at, sejarah, dan sebagainya. Banyak kajian yang mendalam dan terperinci dijalankan oleh mereka dan banyak buku-buku, jurnal dan artikel yang mereka tulis. Hasil umumnya kajian mereka menyimpulkan bahwa tidak ada hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah. Ia masih mengakui bahwa hadits sebagai sumber ajaran Islam.
Orientalis Barat pertama yang melakukan kajian hadits ialah ignaz Goldzhiher dan diikuti Joseph Schacht, kajian dan peneliti kedua orientalis menyimpulkan tidak adanya otentitas/keshahihan hadits Nabawi khususnya yang berkaitan dengan hukum Islam. Dan Goldzhiher masih memilih antara hadits (disiplin ilmu teoritis) dan sunnah( aturan-aturan praktis). Kedua kritikus non muslim pada dasarnya bukan untuk mencari ajaran yang terkandung didalam hadist Nabawi, melainkan mencari kelemahan-kelemahan dan menyimpulkan bahwa hadist-hadist yang menjadi rujukan dan sumber kedua hukum Islam Cuma rekayasa para ulama. Kesimpulan kedua tokoh ini atas kritik hadits sangat pengaruh di kalangan masyarakat Barat dan menjadi rujukan bagi mereka yang mempelajari kebudayaan Islam.
Menurut Daud Rasyid tuduhan Goldziher dari hadit adalah catatan sejarah tentang hasil kemajuan yang dicapai Islam dibidang politik dan social pada dua pertama hijriah secara historis dan kenyataan dan tidak beralasan. Sebab Nabi wafat setelah bangunan agama benar-benar sempurna dan selesainya kitabullah dan sunnah Nabi.
BAB V : TELAH SOSIO-KULTURAL : MANHAJ AHLUL MADINAH
Al-Qur’an atau al-Hadits shahih menerangkan suatu hukum yang disyari’atkan oleh Allah kepada umat sebelum umat Islam, kemudian datang dalil syara’ yang membatalkannya aka telah disepakati oleh seluruh ulama’ bahwa hukum itu bukanlah merupakan syara’ bagi kita karena sudah ada dalil yang membatalkan, kemudian al-Qur’an atau al-Hadits menetapkan bahwa hukum tersebut diwajibkan pula kepada umat Islam sebagaimana diwajibkan kepada mereka, maka tidak diperselisikan lagi bahwa hukum tersebut adalah syari’at bagi kita dan sebagai hukum yang harus kita ikuti. Dan syri’at kita adalah menasyah (membatalkan) syari’at yang telah ditetapkan kepada umat sebelum kita. Kecuali ada dalil yang menetapkn sebagai syari’at kita.
Hukum yang ditebitkan ahlul madinah banyak berpijak kepada teks Allah. Pada dasarnya fiqh ahlul Madinah adalah fiqh yang berada dalam masa sahabat dimana ada al-shahabah al-sab’ah : sa’id bin Musayyab, Urwan bin Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman, Ubaidillah bin Abdullah, Khorijah bin Zaid, Al-Qasim bin Muhammad, dan Sulaiman bin Yasa. Ahlul Hadits adalah aliran tradisonal yang dalam ijtihad fiqhnya selalu merujuk nash-nash al-Qur’an dan al-Sunnah, serta tidak senang melakukan kajian nalar rasional dan sangat berhati-hati dlm berfatwa. Berbeda dengan ahlul ra’yi dengan mendahulukan pendapat akal dari hadits-hAdits.
Sumber hukum fiqh secara urut adalah al-Qur’an, sunnah Nabi Muhammad SAW dan ra’yu. Golongan ahlul hadits kurang menggunakan ra’yu karena khawatir keliru dalam berijtihad tentang agama. Pada akhirnya ahlul Ra’yi dikenal dengan sebutan Madrsah Ra’yu atau Madrasah al-kufah (sekelompok ulama’ yang tinggal di kufah yang lebih banyak menggunakan ra’yu dibandingkn dengn madrsah madinah). Dengan menggunakan prinsip ijtihad dalam menetapkan hukum bila masalahnya itu terdapat aturan-aturan secara harfiah.
Dua golongan madzhab besar dalam hukum islam adalah :
1.  Ahlul hadits beriorintasi menggunakan nash al-Qur’an, as-Sunnah, al-ijma’dan al-Qiyas oleh sahabat dalam menetapkan hukum. Madzhabnya adalah Madzhab Syafi’i, Madzhab Maliki dan Madzhab Hambali.
2.    Ahul Ra’yi berperan dalam penggalian dan penetapan hukum dan ijtihadnya selain berpegang pada al-Qur’an, al-Hadits, al-Ijma’ dan Qiyas beliau memakai dalil al-Ikhtisa sebagai dalil khusus. Madzhab yang mucul pertama dikalangan madzhab sunni.
BAB VI : POSTMODERNISME : REALITAS FILSAFAT KONTEMPORER
Dalam bidang filsafat postmodernisme diartikan sebagai “segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya. Gerakan postmodernisme telah merambah diberbagai bidang kehidupan, termasuk seni, ilmu, filsafat dn pendidikan.  Kegagalan modernisme telah melahirkan gerakan postmodernisme yang mendekontruksi pemikiran modernisme.
Konsep posmo pertama kali muncul di lingkungan gerakan arsitektur. Arsitektur modern berioientas pada fungsi struktur, sedangkan arsitektur posmo berupaya menampilkan makna simbolik dari kontruksi dan ruang. Sejumlah ahli menskripsikan posmo sebagai menolak rasionalitas yang digunakan oleh para fungsionalis, rasionalis, interpretif dan teori kritis. Posmo bukan menolak rasionalitas tetapi tidak membatasi pada standar termasuk yang divergen, horisontal, dan heterarkhik tetapi lebih menekankan pada pencarian rasionalitas aktif kreatif.
Postmodernisme yang tampil mencolok dalam arsitektur sastra, seni lukis dan filsafat kontemporer, postmodenisme dengan pluralisme hadir sebagai bentuk kepekaan baru terhadap realitas baru. Neo modernisme dipandang sebagai pokok dalam studi filsafat kontemporer sebetulnya memiliki kemiripan ari dengn term postmodernisme. Dan identik dengan du hal. Pertama, post-modernisme dinilai sebagai keadaan sejarah setelah zaman modern. Kedua,  post-modernisme dipandang sebagai  gerakan intelektual yang mencoba menggugat, bahkan mendekontruksi pemikiran sebelumnya yang berkembang dalam bingkai paradigma pemikiran modern.
BAB VII : PORTET METODE DAN CORAK TAFSIR AL-AZHAR
Hamka dilahirkan disebuah desa bernama Tanah Sirah, dalam Nagaria Sungai Batang, tepatnya dengan 16 Februari 1908 M. Ayahnya Syekh Abdul Karim Amrullah, Hamka memanifestasikan dirinya dalam berbagai ragam aktivitas yakni sebagai sastrawan, budayawan, ilmuwan Islam, muballigh, pendidikan  bahkan menjadi seorang politisi.
Tafsir al-zahra berasal dari kuliah subuh yang diberikan oleh Hamka di Masjid agung al-zahra sejak tahun 1959, suasana politik di masjid al-zahra menimbulkan tuduhan menjadi sarang “Neo Masyum” dan “Hamkanisme”. Dan tanpa diduga sesaat setelah Hamka memberikan pengajian di hadapan kurang lebih 100 orang kaum ibu di masjid al-zahra ditangkap oleh pnguasa Orde lama, lalu dijebloskan ke dalam tahanan sebagai tahanan politik. Hamka ditempatkan di rumah peristirahatan di kawasan puncak, ditempt ini Hamka mempunyai kesempatan untuk menulis Tafsir al-Azhar dan menyempurnakannya setelah Hamka dibebaskan.
Corak tafsiral-azhar yaitu pertama, Metode Analitis (Tahlili) adalah menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan ikut serta menerangkan makna yang tercakup didalamnya, sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat demi ayat dan surat demi surat sesuai dengan urutannya didalam mushaf.  Metode Penafsiran mengambil bentuk ma’tsur (riwayat) atau ra’y (pemikiran). Kedua, Corak Kombinasi al-Adabi al-Ijtima' (sosial kemasyarakatan) adalah suatu cabang dari tafsir yang muncul pada masa moden ini, yaitu corak tafsir yang berusaha memahami nash-nash al-Qur’an dengan cara pertama dan utama mengemukakan ungkapan-ungkapan al-Qur’an secara teliti, selanjutnya menjelaskan makna-makna yang dimaksud oleh al-Qur’an dengan gaya bahasa yang indah dan menarik. Seorang mufassir berusaha menghubungkan nash-nash al-Qur’an yang dikaji dengan kenyataan sosial dan system budaya yang ada.
BAB VIII : DISKURSUS METODE HERMENEUTIKA  AL-QUR’AN
Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani: hermeneu. Dalam bahasa Inggris: hermeneutic yang artinya menafsirkan, menjelaskan, dan menginterpretasikan atau menterjemahkan. Sebagai salah satu paradigma keilmuan yang terkait dengan penfsirkan teks-teks kitab suci. Metode filsafat konterporer yang mencoba menguak makna sesuatu teks.
Hermeneutika al-Qur’an merupakan istilah yang masing asing dalam wacana pemikiran Islam. Dikursus penafsiran al-Qur’an traisional lebih banyak mengenal istilah al-tafsir, al-ta’wil dan al-bayan. Dapat digariskan bahwa hermeneutik al-Qur’an adalah satu metode untuk membedah kandungan makna ayat Allah dengan menyesuaikan konteks dan membuat ayat semakin kontesktual.
Dimensi yang paling dekat dari agama dengan hermeneutika adalah kitab suci, karena memang hermeneutika pada dasarnya muncul sebagai satu metode untuk memahami kitab suci, termasuk kitab suci umat Islam yaitu al-Qur’an. Memahami dan menafsirkan al-Qur’an harus dikatakan sebentuk ijtihad.tiga hal dalam penafsiran yang bercorak hermeneutika dalam penafsiran al-Qur’an : pertama, Para penafsir adalah manusia. Kedua, penafsiran tidak terlepas dari bahasa, sejarah dan tradisi. Ketiga, tidak ada teks yang menjadi wilayah bagi dirinya sendiri.
BAB IX : JAWA DAN TRADISI ISLAM PENAFSIRAN HISTORIOGRAFI JAWA MARK R WOODWARD
Dalam menyajikan analisa yang tepat dapat mengkaji pemikiran Mark R. Woodward tentang Islam dan tradisi Jawa merupakan unik, bukan karena mempertahankan aspek-aspek budaya dan agama pra-Islam, Dalam karyanya The Religion of Java, Clifford Geertz  membagai Islam Jawa dengan varian abangan (sikap lebih menitikberatkan segi-segi sinkritesme dalam agama Jawa yang komprehensif), santri (perilaku menitikberatkan segi-segi Islam), priyayi (sikap lebih menitikberatkan segi-segi Hindu).
Pemikirannya tampaknya mencegat pemahaman banyak pihak yang terlanjur mengontruksikan dikotonomi Islam dengan tradisi Jawa.
a.       Sejarah Jawa Versi Woodward : Teks Jawa dan Etnografis
Proses islamisasi di Jawa sekitar masa pemerintahan Kerajaan Hindu Majapahit. Majapahit berkembang pesat setelah pergolakan kedaerahan dapat dipadamkan, sehingga seluruh daerah pedalaman dan pesisir berhasil dikonsolidasikan. Ketika majapahit runtuh dan berdiri kerajaan Demak, maka pertumbuhan Islam semakin terasa hegemonika, selain faktor historis adanya peran para wali penganjur Islam karena posisi Demak memang terletak di kawasan pesisir.
b.      Mistisme dan Tradisi Islam Jawa
Perkembangan sifat Islam di daerah pesisir berbeda denga daerah pedalaman. Jika daerah pesisir proses Islamisasi sangat diwarnai oleh semangat dinamime kaum saudagar yang berideologi egaliter, maka daerah pedalaman yang agraris penyebarannya Islam berusaha menyesuaikan diri dengan kebudayaan Jawa yang telah berpengaruh kuat dikalangan masyarakat petani.
c.       Tradisi Islam di Jawa Versi Woodward
Menurut Mark R. Woodward bahwa Islam Jawa yang kemudian disimplikasikan sebagai kejawen sejatinya bukan sinkretisme antara Islam dan Jawa (Hindu dan Budda), tidak lain varian Islam seperti berkembangnya Islam Arab, Islam India dan lain-lainnya. Dan yang paling mencolok dari Islam Jawa adalah kecepatan dan kedalamannya mempenetrasi masyarakat Hindu-Buddha yang paling maju atau sophisticated. Perubahan terjadi begitu cepat, sehingga masyarakat jawa seakan tidak sadar sudah terjadi transformasi sistem teologi.
BAB X : REINTERPRESTASI PROFIL PERADAPAN ISLAM
Dalam menifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Jadi makna kebudayaan itu lebih luas dari pada peradaban karena makna kemajuan dan pekembangan pada kebudayaan sifatnya mendasar sedang peradaban merupakan perkembangan dan kemajuan yang lebih lanjut dari kebudayaan.
Pada dasarnya landasan peradapan Islam adalah kebudayaan Islam adalah kebudayaan Islam terutama wujud idealnya, sementara landasan kebudayaan Isam kebudayaan Islam adalah agama. Karena dalam Islam, agama bukanlah kebudayaan seperti yang dipercaya oleh penganut agama bumi, tetapi dari agama dapat melahirkan kebudayaan. Kemudian cara melihat Islam itu sendiri disisi ada dua perspektif; pertama, Islam Normatif merupakan agama yang didalamnya berisi ajaran Tuhan yang berkaitan dengan urusan akidah dan muamalah, kedua Islam Historis merupakan ajaran-ajaran yang diwahyukan Allah kepada manusia melalui Nabi Muhammad yang memuat berbagai segi atau aspek kehidupan manusia.
Ketika masyarakat Islam tidak dalam posisi marjinal dan punya rasa percaya diri yang tinggi, maka mereka akan mampu menampilkan wajah Islam yang terbuka, progresif, kosmopolit, dan berkarakter liberal. Sebaliknya, ketika posisi masyarakat muslim terpuruk dan tertekan, maka menonjolkan karakter yang paranoid, eksklusif, dan relatif. Pada titik inilah umat Islam mestinya dapat membangun patahan-patahan indah sejarahnya dimasa depan.
Islam pernah mengalami kejayaan yang luar biasa, adapun pusat peradaban Islam saat itu berada di Baghdad (Irak), memiliki perpustakaan yang dipenuhi beribu – ribu buku ilmu pengetahuan yang disebut Bait al Hikam, Kairo (Mesir) adanya pembaharuan dibidang administrasi, pembangunan ekonomi dan toleransi beragama, Ishafan (Persia), Istambul (Turki).
Peradapan Barat mencapai puncaknya pada mereka meninggalkan independen dari Tuhan. Karena mereka menyadarkan nasibnya semata pada kekuataan sendiri dan mengabaikan aspek-aspek spiritual maka dipahami jika mereka kehilangan orientasi (disoriented). Dan merupakan kerapuahan fondasi peradapan barat maka peluang besar bagi umat Islam untuk membangun peradaban alternatif yan berdimensi moral dan spiritual.
Kelebihan dan kekurangan buku :
Kelebihan buku ini : mengetahui sejarah penyebaran agama islam di zaman dahulu diberbagai negara dan tantangan agama islam dalam globalisasi. Kekurangan buku ini: Memakai bahasa yang tidak mudah di pahami oleh kalangan pembaca karena menggunakan bahasa ilmiyah. Dan halaman yang tercantum dalam daftar isi tidak sesuai dengan pembahasan dalam buku tersebut.

Kamis, 13 Juni 2013

cara menanam bunga

Cara mudah Menanam Bunga Mawar dalam Pot


bunga mawar merah
Menanam Bunga Mawar Dalam Pot - Tak dapat disangkal lagi bahwa keindahan bunga mawar memberikan pesona yang luar biasa bagi yang melihatnya. Selain warnanya yang eksotik bunga mawar juga identik dengan lambang cinta. Jadi keingat jaman sekolah dulu hehehe… sok ngasih bunga mawar ke teman wanita pujaan saat hari valentine. Ngaco aja nih,,, sok-sokan romantis walau Cuma modal bunga mawar. Tapi itulah keunggulan bunga mawar, dapat mewakili perasaan seseorang. Karena tidak semua orang mampu mengatakan perasaan cinta pada pujaan hatinya, maka dengan setangkai bunga mawar anda sudah mengatakannya.

Bunga mawar yang harum baunya dapat dengan mudah kita jumpai di mana saja. Ada kalanya cukup ditancapkan batangnya ke tanah saja sudah hidup, meski tidak seindah jika kita menanam, merawat dengan penuh cinta. Dalam artikel sederhana ini akan dibahas bagaimana cara menanam bunga mawar di dalam pot. Paling simpel sih kalo menurut saya ya beli saja di kios bunga. Tinggal dipilih mana yang disukai trus bayar, tinggal bawa pulang,, beres..  sok jadi orang berduit saja main beli… iya kalo Cuma satu, kalo banyak mesti habis berapa duit..

Kebanyakan ngaco nya nih… langsung ajah ya barangkali saja bermanfaat untuk anda para penggemar bunga mawar.  Berikut ini tahapan yang mesti anda lakukan yang saya ambil dari beberapa sumber:

1.    Tips Memilih Bibit
Pemilihan bibit merupakan hal terpenting sebelum menanam bunga. Pilih bibit jenis bunga mawar yang kamu sukai dan bibit harus benar-benar bagus.

2.    Persiapan Lahan
Kalau anda tinggalnya dikota saya yakin akan sulit mencari tanah untuk media. Paling gampang ya beli media tanah yang sudah dicampur dengan kompos di kios bunga. Intinya tanah yang dimasukkan di dalam pot, sebaiknya tanah yang di gunakan jenis tanah yang bagus atau subur.Untuk membuat tanah yang bagus atau subur kamu cukup mencampurkan tanah yang gembur dengan pupuk kandang/kompos serta campurkan juga sekam untuk menampung atau pengikat air dalam tanah.

3.    Proses Penanaman Bunga
Kamu bisa langsung saja menanamkan bibit bunga mawar di tanah yang kita siapkan dalam pot tadi.Untuk memenuhi kebetuhan air pada bunga mawar, setelah bibit di tanam kamu harus rutin menyiram tanah di sekitar bibit yang kita tanam tadi, dan ingat hanya tanah di sekitar bibit yang disiram.Penyiraman yang berlebihan akan membuat bibit yang masih kecil menjadi busuk dan mati.

4.    Perawatan
Pada proses perawatan yang perlu kamu perhatikan adalah pemberian asupan air dan nutrisi dengan cara memberikan pupuk organik atau bisa juga pupuk anorganik,dan kemudian melakukan penyiraman secara rutin pada pagi dan sore hari.Lihat kondisi tanah jika sudah terlalu padat, maka kamu perlu melakukan penggemburan tanah. Karena tanah yang padat akan mengurangi peresapan air maupun zat pupuk yang di butuhkan bunga.

Ketika bunga mawar sudah terlihat rimbun, jangan lupa untuk memangkas beberapa dahan dari bunga tersebut, tujuannya untuk memunculkan dan memperbanyak bunga, kemudian yang terpenting terakhir jangan lupa untuk membersihkan pot bunga dari rumput atau gulma yang mengganggu.

Rabu, 24 April 2013

MAKALAH PENGANTAR STUDI ISLAM KELOMPOK 6


MAKALAH
EPISTEMOLOGI KEILMUAN ISLAM
Dipresentasikan dalam Mata Kuliah
Pengantar Studi Islam
Yang diampu oleh : M. Rikza Chamami, MSI
logo.png
                                                           Disusun Oleh :
1.      Puspa Wijaya Wati             (093311032)
2.      Nur Fadhilah                       (123911081)
3.      Sintia Ayu Rahmawati        (123911101)
4.      Vicky Sofi Kharisma           (123911113)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
TAHUN 2013
EPISTEMOLOGI KEILMUAN ISLAM
I.          PENDAHULUAN
Menurut pemakaian umum, epistemologi dapat diartikan atau didefinisikan sebagai mempelajari asal usul, atau sumber atau struktur, metode dan validitas (sahnya) pengetahuan.
Model berpikir rasional berpendapat bahwa menemukan kebenaran dan sekaligus menjadi tolak ukur dengan menggunakan akal secara logis. Maka benar atau tidaknya sesuatu diukur dengan rasionalitas akal. Dengan demikian dapat disebut obyek kajian epistemologi rasional adalah hah-hal yang bersifat abstrak dan logis. Upaya rekonstruksi filsafat Islam perlu mendapatkan perhatian lebih. Namun  sekedar  wacana saja sangatlah tidak cukup, perlu upaya yang lebih real dan kongkrit yang harus terus dilakukan, agar  kehadiran dan perkembangan filsafat Islam semakin terasa.
Setidaknya ada 2 upaya yang perlu dilakukan yaitu membangun tradisi ilmiah Islam dan mengkonstruksi kembali bangunan epistemologi keilmuan dalam Islam, yang akhir-akhir ini banyak terjadi kesimpang siuran dan ketidakjelasan yang dapat ditemukan dalam satu bidang ini.
Dalam dunia pemikiran, epistemologi menempati posisi penting, sebab menentukan corak pemikiran dan pernyataan kebenaran yang di hasilkannya. Bangunan dasar epistemologi  berbeda dari satu peradaban dengan yang lain. Perbedaan titik tekan dalam epistemologi  memang sangat besar pengaruhnya dalam konstruksi bangunan pemikiran manusia secara utuh. Oleh karena itu, perlu pengembangan empirisme dalam satu keutuhan dimensi yang bermuatan spiritualitas dan moralitas.

II.          PERMASALAHAN
A.       Pengertian Epistemologi Keilmuan Islam
B.       Model Pemikiran Epistemologi Keilmuan Islam
1.        Model Berpikir Bayani
2.        Model Berpikir Burhani
3.        Model Berpikir Irfani

III.          PEMBAHASAN
A.       Pengertian Epistemologi Keilmuan Islam
Secara bahasa, kata epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, sedangkan logos berarti teori, uraian, atau alasan. Maka berdasar bahasa, epistemologi adalah sebuah teori tentang pengetahuan atau theory of knowledge.[1]
Epistemologi atau teori ilmu pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan.
Epistemologi meliputi sumber, sarana dan tatacara menggunakan sarana untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Menurut Prof. Kunto, akal (verstand), akal budi (vernun) pengalaman, atau kombinasi antara akal dan pengalaman, merupakan sarana yang dimaksud dalam epistemologi seperti rasionalisme, empirisme, kritisisme, positivisme, fenomenologi dengan berbagai variasinya.
Adapun sumber-sumber ilmu pengetahuan adalah (1) panca indera yang telah menghasilkan pengetahuan, di mana hakikat pengetahuan ini adalah “a phenomena or a show of the object known”, (2) rasio atau verstand, suatu konsep atau pengertian dari objek yang ingin diketahui, maka pengetahuan di sini sama dengan kognisi, (3) otoritas atau kekuasaan, dan (4) wahyu, di mana pengetahuan yang didapatinya tidak lagi berdasarkan penalaran melainkan kepada keyakinan dan kepercayaan dirinya tentang sesuatu yang diyakini. Dalam hal ini MM. Syarif membedakan antara pengetahuan intuitif dengan wahyu, intuisi bisa terdapat pada setiap orang, sedangkan wahyu adalah penegtahuan yang diberikan Tuhan kepada para Nabi.
Dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah teruji secara empiris.[2]
Definisi epistemologi adalah salah satu cabang pokok bahasa dalam wilayah filsafat yang memperbincangkan seluk beluk “pengetahuan”. Seperti sudah banyak dikenal, bahwa perbincangan epistemologi tidak dapat meninggalkan persoalan-persoalan yang terkait dengan sumber ilmu pengetahuan dan beberapa teori tentang kebenaran.
Istilah epistemologi sendiri pertama kali muncul pada pertengahan abad XIX oleh J.F. Rarrier dalam bukunya “Institute of  Metaphysics”. Persoalan epistemologi tersebut sebenarnya sudah di mulai dalam pertentangan antara Heraclitus (535-475 SM) melawan Parmenindes (504-475 SM) yang pada dasarnya merupakan sengketan fundamental, sebab yanh mereka persoalkan sudah berupa masalah kebenaran pengetahuan.[3]
Epistemologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, epistemologi adalah cabang ilmu filsafat tentang dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan.
Epistemologi secara istilah, meminjam penjelasan Dagobert D. Runes dalam bukunya, Dictionary of Philoshopy, adalah cabang filsafat yang mnyelidiki tentang keaslian pengertian, struktur, mode dan validitas pengetahuan. Pendapat lain dikemukakan oleh D.W Hamlyn yang mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian-pengandaiannya, serta secara umum hal itu dapat diandalkan sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.
Dari dua definisi epistemologi ini, maka dapat kita pahami bahwa epistemologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hal-hal yang bersangkutan dengan pengetahuan dan dipelajari secara substantif.[4]
Oleh karena itu, epistemologi bersangkutan dengan masalah-masalah sebagai berikut:
1.         Filsafat, yaitu sebagai cabang ilmu dalam mencari hakikat dan kebenaran pengetahuan.
2.         Metode, memiliki tujuan untuk mengantarkan manusi mencapai pengetahuan.
3.         Sistem, bertujuan memperoleh realitas kebenaran pengetahuan.[5]
Dalam teori epistemologi terdapat beberapa aliran. Aliran-aliran tersebut mencoba menjawab pertanyaan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Pertama, golongan yang mengemukakan asal atau sumber pengetahuan yaitu aliran:
1.         Rasionalisme, yaitu aliran yang mengemukakan, bahwa sumber pengetahuan manusia ialah pikiran, rasio dan jiwa.
2.         Empirisme, yaitu aliran yang mengatakan bahwa pengetahuan manusia berasal dari pengalaman manusia itu sendiri, melalui dunia luar yang ditangkap oleh panca inderanya.
3.         Kritisme (transendentalisme), yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari dunia luar dan dari jiwa atau pikiran manusia sendiri.
Kedua, golongan yang mengemukakan hakikat pengetahuan manusia inklusif di dalamnya aliran-aliran:
1.         Realisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa pengetahuan manusia adalah gambaran yang baik dan tepat tentang kebenaran. Dalam pengetahuan yang baik tergambar kebenaran seperti sesungguhnya.
2.         Idealisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan hanyalah kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kanyataan yang diketahui manusia semuanya terletak di luar dirinya.[6]
Dengan demikian, pengertian epistemologi keilmuan Islam adalah merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan yang menjelaskan tentang keilmuan Islam dan beberapa aspek yang termasuk di dalamnya yang diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan yang meliputi sumber dan sarana untuk mencapai ilmu pengetahuan.

B.       Model Pemikiran Epistemologi Keilmuan Islam
Dalam kajian epistemologi barat, dikenal ada tiga aliran pemikiran, yakni empirisme, rasionalisme dan intuitisme. Sementara itu, dalam pemikiran filsafat Hindu dinyatakan bahwa kebenaran bisa didapatkan dari tiga macam, yakni teks suci, akal dan pengalaman probadi. Dalam kajian pemikiran Islam terdapat juga beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi). Setidaknya ada tiga model sistem berfikir dalam Islam, yakni bayani, burhani dan irfani, yang masing-masing mempunyai pandangan yang sama sekali berbeda tentang pengetahuan.
Metode berfikir dalam paradigma ahkamy yang terdapat dalam ilmu tafsir, hadits, fiqh, dan ilmu kalam oleh al-Jabari disebut dalil al-Bayani. Sedangkan metode dalam filsafat Islam yang membahas paradigma falsafy disebut dengan istilah dalil al-Burhany. Dan metode berfikir yang membahas paradigma wijdany dalam ilmu tasawuf disebut al-‘irfany. Produk pikir yang diperoleh oleh masing-masing metode berpikir juga berbeda. Jika dalil al-Bayani menghasilkan al-‘Ilm al- Tauqify, maka dalil al-Burhani menghasilkan al-‘Ilm al-Husuli dan dalil ‘irfani menghasilkan al-‘Ilm al-Hudury.[7]
1.         Model Berpikir Bayani
Secara bahasa, bayani bermakna sebagai penjelasan, pernyataan, ketetapan.[8] Sedangkan secara terminologis, bayani berarti pola pikir yang bersumber pada nash, ijma’, dan ijtihad. Jika dikaitkan dengan epistemologi, maka pengertiannya adalah studi filosofis terhadap struktur pengetahuan yang menempatkan teks (wahyu) sebagai sebuah kebenaran mutlak. Adapun akal hanya menempati tingkat sekunder dan bertugas hanya untuk menjelaskan teks yang ada.
Ditinjau dari perspektif sejarah, bayani sebetulnya sudah dimulai sejak pada masa awal Islam. Hanya saja pada masa awal ini, yang disebut dengan bayani belum merupakan sebuah upaya ilmiah dalam arti identifikasi keilmuan dan peletakan aturan penafsiran teks-teksnya, tetapi baru sekedar upaya penyebaran tradisi bayani saja.
Dalam tradisi keilmuan Islam, corak bayani sangat dominan. Dengan segala karakteristiknya, corak bayani bukanlah sebuah corak yang sempurna. Salah satu kelemahannya adalah kurang peduli terhadap isu-isu keagamaan yang bersifat konstektual. Padahal, jika ingin mengembangkan pola berfikir bayani, maka mau tidak mau harus menghubungkan dengan pola berfikir irfani dan burhani. Jika masing-masing tetap kokoh pada pendiriannya dan tidak mau membuka diri, berdialog, dan saling melengkapi satu sama lain, sulit rasanya studi Islam dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman mampu menjawab tantangan kontemporer yang terus berkembang tiada henti.
Dalam tradisi bayani, otoritas kebenaran terletak pada teks (wahyu). Sementara akal menempati posisi sekunder. Tugas akal dalam konteks epistemologi bayani adalah menjelaskan teks-teks yang ada. Sementara bagaimana bagaimana implementasi ajaran teks tersebut dalam kehidupan konkret berada di luar kalkulasi epistemologi ini.[9]
Epitemologi Bayâni adalah pendekatan dengan cara menganalisis teks. Maka sumber epistemologi bayani adalah teks. Sumber teks dalam studi Islam dapat dikelompokkan secara umum menjadi dua, yakni:
a.         Teks nash ( Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW)
b.        Teks non nash berupa karya para ulama
Obyek kajian yang umum dengan pendekatan bayani adalah :
a.         Gramatika dan sastra (nahwu dan balagah)
b.        Hukum dan teori hukum (fiqh dan ushul fiqh)
c.         Filologi
d.        Teologi, dan
e.         Dalam beberapa kasus di bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Hadist.[10]
Corak berfikir yang diterapkan dalam epistemologi bayani ini cenderung deduktif, yakni mencari (apa) isi dari teks (analisis content).
Sejak dari awal, pola pikir bayani lebih mendahulukan qiyas dan bukam mantiq lewat silogisme dan premis-premis logika. Epistemologi tekstual-lughawiyah lebih diutamakan daripada epistemologi kontekstual-bahtsiyyah maupun spiritualitas-irfaniyyah-batiniyyah. Di samping itu, nalar epistemologi bayani selalu mencurigai akal pikiran, karena dianggap akan menjauhi kebenaran tekstual. Sampai-sampai muncul kesimpulan bahwa wilayah kerja akal pikiran perlu untuk dibatasi sedemikian rupa dan perannya dialihkan menjadi pengatur dan pengekang hawa nafsu, bukannya untuk mencari sebab dan akibat lewat analisis keilmuan yang akurat.
Sistem epistemologi bayani ini menghasilkan suatu pakem kombinatif untuk menafsirkan wacana dan menentukan sarat-sarat produksi wacana. Konsep dasar sistem ini menggabungkan metode fiqh seperti yang dikembangkan oleh asy-Syafi’i, dengan metode retorika seperti yang dikembangkan oleh al-Jahiz. Sistem ini berpusat pada hubungan antara ungkapan dan makna.
Hasil akhirnya adalah sebuah teori pengetahuan yang dalam setiap levelnya bersifat bayani. Dalam logika internalnya, teori pengetahuan (epistemologi) ditentukan oleh konsep bayani yang termasuk gaya bahasa puitik, ungkapan oral, pemahaman, komunikasi, dan penangkapan secara penuh. Hal yang sama juga terdapat dalam ranah materi pengetahuan, yang terutama disusun dari al-Qur’an, hadits, tata bahasa, fiqh, serta prosa dan puisi Arab. Begitu juga dengan ranah ideologi, karena kekuatan otoritatif yang menetukan, yaitu dogma Islam, ada di belakang ranah ini. Oleh karena itu, sejak awal ada batasan atau larangan tertentu untuk menyamakan pengetahuan dengan keimanan kepada Tuhan. Sistem ini juga diterapkan dalam ranah epistemologi, di mana manusia dipahami sebagai makhluk yang diberkati kapasitas bayan dengan dua tipe “nalar”; pertama dalam bentuk bakat, dan yang lain adalah hasil pembelajaran.
Al-Jabiri menjelaskan bahwa sistem bayani dibangun oleh dua prinsip dasar. Pertama, prinsip diskontinyuitas atau keterpisahan, dan kedua, prinsip kontingensi atau kemungkinan. Prinsip-prinsip tersebut termanifestasi dalam teori substansi individu yang mempertahankan bahwa hubungan substansi sebuah individu (tubuh, tindakan, sensasi dan apapun yang terbentuk di dalamnya) didasarkan atas hubungan dan asosiasi yang kebetulan saja, tapi tidak memengaruhi dan berinteraksi. Teori ini sesungguhnya menafikan teori kausalitas atau ide tentang adanya hukum alam.[11]
2.         Model Berpikir Burhani
Kata burhani diambil dari bahasa Arab, al-burhan yang berarti argumentasi yang kuat dan jelas. Sedangkan kata yang memiliki makna sama dengan al-burhan  dalam bahasa Inggris adalah demonstration. Arti dari kata demonstration adalah berfikir sesuai dengan alur tertentu atau penalaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, pengetahuan demonstratif merupakan pengetahuan yang integratif, sistemik, dan sistematis. Ciri daripada pengetahuan demonstratif ada tiga. Pertama, pokok bahasannya jelas dan pasti. Kedua, universal dan tidak partikular. Ketiga, memiliki peristilahan teknis tertentu.
Menurut Abid al-Jabiri, burhan dalam logika adalah aktivitas intelektual untuk membuktikan kebenaran suatu proposisi dengan cara konklusi atau deduksi. Sedangkan dalam pengertian umum, burhan merupakan semua aktivitas intelektual untuk membuktikan kebenaran suatu proposisi.[12] Istilah burhani juga dipakai dalam pengertian yang cukup beragam. Beberapa di antaranya; (1) cara atau jenis argumentasi; (2) argumen itu sendiri; (3) bukti yang terlihat dari suatu argumen yang menyakinkan.
Dalam bahasa lain, metode burhani atau demonstratif merupakan sebentuk inferensi rasional, yaitu penggalian premis-premis yang menghasilkan konklusi yang bernilai. Metode burhani atau demonstratif ini berasal dari filosof terkenal Yunani, yaitu Aristetoles. Apa yang dimaksudkan oleh Aristetoles dengan metode demonstratif ini adalah silogisme ilmiah, yaitu silogisme yang apabila seseorang memilikinya, maka orang tersebut akan memiliki pengetahuan. Menurut Aristetoles, silogisme merupakan seperangkat metode berfikir yang dengan silogisme tersebut, seseorang dapat menyimpulkan pengetahuan baru yang diperolehnya dari pengetahuan-pengetahuan sebelumnya.
Metode burhani pada dasarnya merupakan logika, atau metode penalaran rasional yang digunakan untuk menguji kebenaran dan kekeliruan dari suatu pernyataan atau teori ilmiah dan filosofis dengan memerhatikan keabsahan dan akurasi pengambilan sebuah kesimpulan ilmiah.
Tidak semua silogisme dapat disebut denga burhani atau demonstratif. Sebuah silogisme baru dikatakan sebagai demonstratif apabila premis-premisnya didasarkan bukan pada opini, melainkan didasarkan pada kebenaran yang telah teruji atau didasarkan kepada kebenaran utama. Ditinjau dari perspektif metodologi, burhani menggunakan logika (al-maqayis) sebagai metodologi.[13]
Sementara dalam pandangan filosof al-Farabi, metode al-burhaniyah (demonstrasi) merupakan metodologi yang super canggih dibandingkan dengan metodologi-metodologi lainnya, seperti metodologi dialektika (jadaliyah), dan metodologi retorika (khatabbiyah). Jika metode retorika dan dialektika dapat dikonsumsi oleh masyarakat umum, hal ini tidak berlaku bagi metode burhani. Burhani hanya mampu dikonsumsi oleh orang-orang tertentu.
Ilmu-ilmu yang muncul dari tradisi burhani disebut al-‘Ilm al-Husuli, yakni ilmu yang dikonsep, disusun, dan disistematiskan hanya melalui premis-premis logika. Metode burhani ini biasa digunakan dan dijumpai dalam filsafat paripatetik yang secara eksklusif mengandalkan deduksi rasional dengan menggunakan silogisme yang terdiri dari premis-premis dan konklusi. Metode ini dikembangkan oleh al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd.
Berbeda dengan epistemologi bayani, epistemologi burhani menempatkan akal dalam otoritas kebenaran. Jika dalam epistemologi bayani setiap proses pemikiran pasti berangkat dari teks menuju makna, pada epistemologi burhani justru sebaliknya, yaitu makna lebih dulu lahir dari kata-kata.[14]
Maksud epistemologi Burhani adalah, bahwa untuk mengukur benar atau tidaknya sesuatu adalah dengan berdasarkan komponen kemampuan alamiyah manusia berupa pengalaman dan akal tanpa dasar teks wahyu suci, yang memunculkan peripatik. Maka sumber pengetahuan dengan nalar burhani adalah realitas dan empiris; alam, sosial, dan humanities. Artinya ilmu diperoleh sebagai hasil penelitian, hasil percobaan, hasil eksperimen, baik di laboratorium maupun di alam nyata, baik yang bersifat sosial maupun alam. Corak berfikir yang digunakan adalah induktif, yakni generalisasi dari hasil-hasil penelitian empiris.[15]
3.         Model Berpikir Irfani
‘Irfan dalam bahasa Arab semakna dengan ma’rifah yang diartikan dengan al-‘ilm. Di kalangan sufi, kata ‘irfan dipergunakan untuk menunjukkan jenis pengetahuan yang tertinggi, yang dihadirkan ke dalam qalb dengan cara kasyf atau ilham. Di kalangan kaum sufi sendiri, ma’rifah diartikan sebagai pengetahuan langsung tentang Tuhan berdasarkan atas wahyu atau petunjuk Tuhan.
Dalam konteks pemaknaan terhadap ma’rifah, klasifikasi pengetahuan yang dilakukan oleh Dzu al-Nun al-Mishri menempatkan ma’rifah sebagai salah satu jenis pengetahuan khusus di kalangan sufi. Pengetahuan jenis ini, dalam pandangan Dzu al-Nun, yang disebut pengetahuan hakiki. Dzu al-Nun membagi pengetahuan kepada tiga jenis yakni; (1) pengetahuan orang awam yang menyatakan bahwa Tuhan itu Esa dengan perantaraan ucapan syahadat, (2) pengetahuan ulama yang menyatakan bahwa Tuhan itu Esa menurut logika akal, dan (3) pengetahuan para sufi yang menyatakan bahwa Tuhan itu Esa dengan perantaraan hati nurani. Pengetahuan jenis pertama dan kedua baru tahap ilmu, sedangkan pengetahuan ketiga adalah pengetahuan hakiki, yaitu ma’rifat.[16]
Irfani adalah pendekatan yang bersumber pada intuisi (kasf/ilham). Dari irfani muncul illuminasi. Prosedur penelitian irfaniah berdasarkan literatur tasawuf, secara garis besar langkah-langkah penelitian irfaniah sebagai berikut:
a.         Takhliyah : pada tahap ini, peneliti mengkosongkan (tajarrud) perhatiannya dari makhluk dan memusatkan perhatian kepada (tawjih).
b.        Tahliyah : pada tahap ini, peneliti memperbanyak amal sholeh dan melazimkan hubungan dengan al-Khaliq lewat ritus-ritus tertentu.
c.         Tahliyah : pada tahap ini, peneliti menemukan jawaban batiniah terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya.
Paradigma irfaniyah juga mengenal teknik-teknik yang khusus. Ada tiga teknik penelitian irfaniyah :
a.         Riyadah : rangkaian latihan dan ritus dengan penahapan dan prosedur tertentu.
b.        Tariqah : di sini diartikan sebagai kehidupan jama’ah yang mengikuti aliran tasawuf yang sama.
c.         Ijazah : dalam penelitian irfaniah, kehadiran guru sangat penting. Guru membimbing murid dari tahap yang satu ke tahap yang lain. Pada tahap tertentu, guru memberikan wewenang (ijazah) kepada murid.[17]
Epistemologi ‘irfani diharapkan menjembatani sekaligus menghindari kekakuan (rigiditas) dalam berfikir keagamaan yang menggunakan teks sebagai sumber utamanya. Dengan peran dan fungsinya, epistemologi ‘irfani dalam pemikiran Islam menjadi mekanisme kontrol perimbangan pemikiran dari dalam. Memang, perpaduan antara “teks” dengan “akal” ternyata tidak selamanya berjalan baik den sesuai harapan. Dalam kondisi ini, perpaduan ini ternyata juga membawa dampak yang kurang produktif, baik berupa ketegangan, konflik, dan bahkan dalam batas-batas tertentu dalam bentuk kekerasan.
Berbeda dengan kedua epistemologi sebelumnya, sumber epistemologi ‘irfani adalah intuisi. Karena menggunakan intuisi ini, maka status keabsahannya acapkali digugat, baik oleh tradisi bayani maupun burhani. Epistemologi mempertanyakan keabsahannya karena dianggap tidak mengindahkan pedoman-pedoman yang diberikan teks. Sementara epistemologi burhani mempertanyakan keabsahannya karena dianggap tidak mengikuti aturan dan analisa logika.
Sumber terpokok epistemologi ‘irfani adalah pengalaman (eksperince). Pengalaman hidup sehari-hari yang otentik merupakan pelajaran yang tidak ternilai harganya. Ketika manusia menghadapi alam semesta yang cukup mengagumkan, dalam lubuk hatinya yang terdalam telah dapat mengetahui adanya Dzat Yang Maha Suci dan Maha segalanya. Untuk mengetahui Dzat Yang Maha tersebut, manusia tidak perlu menunggu turunnya teks..
Validitas kebenaran ‘irfani hanya dapat dirasakan dan dihayati secara langsung oleh intuisi dan al-dhauq. Sekat-sekat formalitas lahiriah yang diciptakan tradisi bayani maupun burhani, baik dalam bentuk bahasa, agama, ras, etnik, kulit, golongan, kultur, dan tradisi, yang ikut andil merenggangkan hubungan interpersonal antar umat manusia, hendak dipinggirkan oleh tradisi berfikir orisinal ‘irfani.
Ditinjau dari sisi metode, ‘irfani yang dikembangkan terutama oleh kalangan sufi ini menggunakan metode penegtahuan illuminasi (kasyf). Kasyf adalah uraian tentang apa yang tertutup bagi pemahaman yang tersingkap bagi seseorang, seakan ia melihat dengan mata telanjang. Selain itu, kasyf  juga diartikan sebagai penyingkapan atau wahyu. Ia merupakan jenis pengalaman langsung yang lewat pengalaman tersebut, pengetahuan tentang hakiki diungkapkan pada hati sang hamba dan pecinta.[18]

IV.          KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, kami dapat menarik kesimpulan bahwa:
1.    Pengertian epistemologi keilmuan Islam adalah merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan yang menjelaskan tentang keilmuan Islam dan beberapa aspek yang termasuk di dalamnya yang diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan yang meliputi sumber dan sarana untuk mencapai ilmu pengetahuan.
2.    Dalam kajian pemikiran Islam terdapat beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi) yaitu ada tiga model sistem berfikir dalam Islam, yakni bayani, burhani dan irfani.
a.         Model berfikir Islam Bayani bersumber pada teks, baik nash maupun non-nash.
b.         Model berfikir Islam Burhani bersumber pada akal dan empirikal.
c.         Model berfikir Islam Irfani bersumber pada kasf.
Setiap epistemologi, termasuk di dalamnya ‘irfani, memiliki kelebihan dan kelemahan. Tidak ada di antara ketiga epistemologi keilmuan Islam tersebut yang sempurna. Eksistensi ketiganya justru saling melengkapi satu sama lain. Oleh karena itu, hal yang bijak bukanlah menafikan eksistensi peran masing-masing, tetapi bagaimana masing-masing epistemologi tersebut menjalankan perannya yang tepat dan saling melengkapi satu sama lain.

DAFTAR PUSTAKA
Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metedologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pres
Junaedi, Mahfud. 2010. Ilmu Pendidikan Islam: Filsafat dan Pengembangan. Semarang: RaSAIL Media Group
Kadir, Muslim A. 2003. Ilmu Islam Terapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Munawwir, Ahmad Warson. 1984. Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Yogyakarta: Pustaka Progresif
Naim, Ngainun. 2009. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: TERAS
Nasution, Khoiruddin. 2009.  Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: ACAdeMIA+ TAZZAFA.
Syukur, Suparman. 2007. Epistermologi Islam Skolastik. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar











BIODATA PEMAKALAH
1.        Nama                     : Nur Fadhilah
NIM                       : 123911081
Jurusan/Prodi         : Tarbiyah/ PGMI 2C
TTL                        : Demak, 19 Juli 1993
Tempat Tugas        : Perpustakaan Fakultas Tarbiyah
Pendidikan            
SD                          : SD N 03 Kalikondang-SD N 05 Mendawai
SMP                       : MTs N Pangkalan Bun
SMA                      : MAN Pangkalan Bun
S1                           : IAIN Walisongo Semarang
Alamat                   : Demak
Nomor HP             : 085752396533
Email                      : nur_fadhilah93@yahoo.co.id

2.        Nama                     : Vicky Sofi Kharisma
NIM                       : 123911113
Jurusan/Prodi         : Tarbiyah/ PGMI 2C
TTL                        : Jepara, 02 Januari 1995
Tempat Tugas        : Perpustakaan Fakultas Tarbiyah
Pendidikan            
SD                          : MI 01 Pakis Aji
SMP                       : MTs N Bawu Jepara
SMA                      : SMA N 01 Tahunan
S1                           : IAIN Walisongo Semarang
Alamat                   : Pakis Aji Jepara
Nomor HP             :085225506406
Email                      : Vicky_sofi@yahoo.com
3.        Nama                     : Puspa Wijaya Wati
NIM                       : 093311032
Jurusan/Prodi         : Tarbiyah/ KI
TTL                        : Pemalang, 13 Januari 1991
Tempat Tugas        : -
Pendidikan            
SD                          : SD N 02 Pelutan Pemalang
SMP                       : SMP Plus “Salafiyah” Kauman Pemalang
SMA                      : MAN Pemalang
S1                           : IAIN Walisongo Semarang
Alamat                   : Sugihwaras Pemalang
Nomor HP             : 085641168608
Email                      : Puspawijaya91@yahoo.com

4.       Nama                     : Sintia Ayu Rahmawati
NIM                       : 123911101
Jurusan/Prodi         : Tarbiyah/ PGMI 2C
TTL                        : Grobogan, 20 Januari 1995
Tempat Tugas        : Perpustakaan Fakultas Tarbiyah
Pendidikan            
SD                          : SD N 04 Jono
SMP                       : MTs N Yamida Jono
SMA                      : MAN 01 Purwodadi
S1                           : IAIN Walisongo Semarang
Alamat                   : Purwodadi
Nomor HP             : 085641526124
Email                      : Sintia_95@rocketmail.com



[1] Ngainun Naim, Pengantar Studi Islam, (Yogyakarta: TERAS, 2009), hlm. 74
[2] Mahfud Junaedi, Ilmu Pendidikan Islam: Filsafat dan Pengembangan, (Semarang: RaSAIL Media Group, 2010), 9-10
[3] Suparman Syukur, Epistermologi Islam Skolastik, Yogyakarta:  Pustaka Pelajar, 2007, hlm. 42-43
[4] Ngainun Naim, Op Cit, hlm. 74
[5] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metedologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pres, 2002, hlm. 4
[6] Ibid, hlm. 5
[7] Muslim A. Kadir, Ilmu Islam Terapan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 25
[8] Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1984), hlm. 136
[9] Ngainun Naim, Op Cit, hlm. 78-79
[10] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: ACAdeMIA+ TAZZAFA, 2009, hlm. 43
[11] Ngainun Naim, Op Cit, hlm. 80-81
[12]Ibid , hlm. 82
[13] Ibid, hlm. 84-85
[14] Ibid, hlm. 86-87
[15] Khoiruddin Nasution, Op Cit, hlm. 45
[16] Ngainun Naim, Op Cit, hlm. 89
[17] Khoiruddin Nasution, Op Cit, hlm. 45-46
[18] Ngainun Naim, Op Cit, hlm. 90-93